Thursday, 17 August 2023

Semua Tentang Kita

 


Teringat di saat kita tertawa bersama
Ceritakan semua tentang kita
Ada cerita tentang aku dan dia
Dan kita bersama saat dulu kala
Ada cerita tentang masa yang indah
Saat kita berduka, saat kita tertawa 

***

Terlalu banyak cerita tak terungkap. Tentang perjalanan senja nan sepi. Sudah sekian purnama sejak saatku terakhir melihat senyummu. Kenangan yang membubung di udara. Beberapa burung camar datang berkabar akan kepulanganmu. Di tepi dermaga dimanaku selalu menanti di setiap senja. Menanti setiap kapal yang bersandar turun di tanah kelahiran kita. Berharap kau akan datang.

Aku kehilangan nafas beberapa saat. Ritme ku terkubur bersama jasad bunda beberapa waktu yang lalu. Aku sudah mencoba sekuatku, menutup lubang itu. Namun tak bisa. Lubang itu besar menganga dan aku tak seharus menepisnya.

Apa kau tahu. Joy. Dia datang setelah sekian lama pergi. Pertemuan kami agak canggung. Setelah perselisihan yang lalu. Aku tahu tak ada yang lebih mengerti aku dari pada Joy dan kamu. Kau yang kurasakan sekarang sedang terluka karena seseorang. Seseorang yang kau anggap bisa mengobati luka.

Apa kauingat dulu aku pernah bercerita. Tentang tanyaku sepada seorang pujangga; Bagaimana puisi itu tercipta. Dan dia hanya menjawabnya dengan sebuah senyuman. Lalu kemudian tentang cerpen yang ditulisnya dan dia kembali melemparkan sebuah senyuman. Anehnya semua yang melihat waktu itu seakan mengerti dan menoleh kepadaku, seolah mencemooh. “Kau hanya anak kecil yang belum menuntaskan kitab kesusastraan”. Membuatku canggung.

Aku tak menyerah dan terus mengejar tanya. Seperti dia yang selalu bertanya kenapa dan bagaimana mungkin setangkai kasih bersemi disebuah taman yang sudah mati, dan sekarang kau bisa melihatku tersenyum.

Ketika kau membaca ini mungkin kau akan sangsi apakah ini adalah aku. Karena aku tak membuat kerangka terlebih dahulu seperti biasa, mengumpulkan kupu-kupu kenangan yang beterbangan di taman. Lalu membungkusnya kedalam alur yang kumainkan. Semua ini mengalir  begitu saja. Entahlah, mungkin karena sudah lama aku tak membaui segelas kopi Toraja yang masih mengepulkan uap di sudut meja. Atau mungkin karena Joy yang melotot di pojok sana dengan sebatang tembakaunya. Memaksaku dengan mata yang cadas. Aku tahu niatmu teman, maka biarkanlah aku kembali berjalan seperti sedia kala. Menceritakan semua cerita yang tak diketahui kebenarannya.

“Lantas apa yang ingin kau ceritakan sekarang” celetuk Joy setelah mengintip sekelebat tulisan ini.

Apa kau tahu waktu itu, seketika Rindu akan pergi. Lidahku membeku untuk menyampaikan sesuatu. Dan kau marah besar karena aku tak menahan dan membiarkannya pergi. Aku sempat menyesalinya, tapi kini kuyakin itu adalah bagian dari sesuatu. Sesuatu yang terus kutunggu. Membuatku tetap hidup. Bernafas. Ini adalah sesuatu dan kau pasti mengerti[]  


0 comments:

Post a Comment

 
;