Aku puisikan namamuBersama rindu, di dalam sendu
Sudah sekian minggu ketika PR ku tertunda. Dimulai dengan drama koneksi down yang memaksa harus ganti provider, sampai hal-hal lain yang kita anggap sepele. Ternyata itu sangat menghambat. Dua tema terakhir ini sangatlah menggugah. Aku sempat sangsi apakah harus menyelesaikan cerita ini atau membiarkannya tenggelam dalam pekat malam.
***
Apa kau tahu? Beberapa hari yang lalu Joy datang. Sepertinya dia merindukanku setelah beberapa minggu aku tak muncul di balkon rumahnya. Aku tak apa-apa sobat, mukaku hanya sedikit pucat karena terlalu banyak bekerja. Selebihnya aku baik-baik saja, kau liat sendiri kan. Berat tubuhku masih stabil dan cendrung mengarah kepada para lelaki yang mapan hehe (membuncit). Terima kasih telah menghawatirkanku.
Aku tahu kemaren Rindu ke rumahmu kan. Pasti mencariku. Dan akupun tahu, Rindu pasti membuat istrimu cemburu meskipun dia tahu kalau orang tersebut adalah jiwaku. Begitulah Rindu tak akan ada orang yang bisa membendung damagenya, apalagi senyumnya yang mematikan itu, tapi percayalah. Marahnya bisa membuat murung dunia, seketika awan hitam berkelebat seperti badai dan semua bala bencana turun ke bumi seketika hehe.
Aku tidak mengatakannya kepadamu Joy. Terakhir kali aku ke rumahmu dan istrimu sempat bertanya? "Apakah aku akan melepaskan Rindu atau bertahan", Aku tak bisa menjawabnya, tentunya juga dia tahu bagaimana ceritaku. Aku tak bisa melepaskannya, bahkan ketika kami sempat terpisah oleh jarak dan waktu yang begitu lama. Aku tetap menyimpannya hidup, bercengkrama disetiap hariku padanya. Dia menemaniku setiap waktu, dan kami bahagia. Aku tahu orang-orang bahkan kau dan Joy sudah menganggapku tak waras. Aku tak perduli. Ketika suara-suara sumbang itu bergema. Aku tetap pada pendirianku.[]

0 comments:
Post a Comment