Wednesday, 13 May 2026

Menunggu Pagi


Aku melewatkannya lagi. Dua Belas. Dan aku masih meringkuk dalam dingin yang menusuk nyeri. Seharusnya itu menjadi awal dan akhir.


Aku selalu bertanya di setiap detikku. Kapan kau membiarkanku ikut bersamaMu ke kota. Tempat ini sudah tak nyaman. Nafasku sesak, Jantungku sakit karena polusi dunia.

Aku sering mendengar cerita tempat itu. tempat yang hijau dan indah. Burung dan kupu-kupu berterbangan disekitaran. Yang pernah kubaca, ketika mereka masih ada berarri itu adalah pertanda bahwa masih ada ekosistem kehidupan yang alami. Aku memejamkan mata. Membayangkan seperti apa tempat itu. Apakah akan ada telaga yang dikelilingi pohon yang rindang disana. Padang rumput yang luas ditemani semilir angin yang pelan-pelan menuruni bukit. Ah... aku akan betah duduk disana berjam-jam menunggu malam bersama tumbler dan kopi favoritku. Menunggu sang jingga turun si ujung sana. Lalu ketika hari sudah mulai gelap, remang sang kunang-kunang menerangi, menuntun jalan untuk pulang.

Di sudut barat daya. Ya, aku akan membuat rumah kayu kecil disana. Bersama jalan setapak melandai ke arah telaga. Rumah berwarna putih, beratap biru. Seperti pintamu, akan ada pendopo kecil disampingnya, dengan kolam kecil tempat kita mencoba memelihara ikan. Kita membuat pagarnya dari potongan bambu. Dan aku masih ingat ketika kau mulai merajuk, mempermasalahkan warnanya. Hehe dalam hatiku marah sekaligus tertawa melihat tingkahmu. Wanita yang kuputuskan akan selalu ada, apapun yang terjadi. Aku akan selalu ada untukmu.

Aku masih belum membicarakannya. Tapi aku sudah berencana membuat kebun kecil disamping kiri dan halaman kita. Dimana sayur-sayur segar akan tumbuh menanti embun pagi. Dan sore ini aku nelihat benda asing tergantung diteras kita, ehm... sepertinya aku sudah tahu keinginanmu. Anggrek bukan....

Aku melihatmu dari kejauhan, sebentar lagi aku tiba sayang. Aku hanya pulang membawa lelah dan sakit, serta sepotong puisi yang kutemukan tadi disamping telaga ketika senja. Aku ragu apa aku harus membacakannya. Kau tahu aku tidak begitu bagus dalam menyampaikannya. Tak selantang kamu. Aku masih ingat ketika kau memaksa untuk membacakan puisi di sebuah acara resepsi temanmu. Aku melihat disekitar dan aku tahu orang-orang disana tak akan pernah bisa memaknainya. Seperti dunia yang tak bisa memahami hati kita. Ataukah kita, yang terlampau tinggi mengepak sampai lupa berpijak. 

Aku bergumam, mencoba berbicara dengan sang kunang-kunang. Apa aku harus membacakan puisi itu, agar kau tak lagi marah karena pertengkaran kecil kita tadi pagi. Aku mendiamkanmu, karena otakku sudah penuh dengan beban yang tak mungkin kubagi untukmu. Maafkan keegoisanku, aku tahu kau menungguku di teras rumah kecil kita, aku bahkan bisa mencium aroma kopi yang sudah kau buat. Hanya saja aku belum bisa memutuskan, apakah akan seperti biasa menyapa dan memelukmu. Atau meneruskan gencaran senjata kita hehe. Tapi yang pasti, perutku sudah berteriak keroncongan. Aku rindu masakanmu. Rindu senyummu, atau mungkin marahmu nanti yang akan menyambutku. Apapun itu, aku tak perduli aku hanya rindu tatapanmu, hidung tanggungmu dan sekarang sudah Tiga Belas. 

Kapan Dia membawaku[]

0 comments:

Post a Comment

 
;