Monday, 11 May 2026

Prolog Hujan

 


Bukankah sudah pernah kukatakan dulu, bahwa aku tak seperti mereka. Bukan orang yang mendambakan kursi-kursi di gedung pencakar langit. Banyak yang mencemooh, bahwa aku bahkan takut bermimpi. Sesuatu hal gratis dan bisa menjadi energi motivasi yang luar biasa bagi sebahagiaan orang.

Aku adalah aku. Aku bukan lagi orang yang mudah goyang akan sesuai. Meskipu  badai melempar jauh tubuhku. Namun hati ini tetap berdiri tegak. Mengakar.

Aku mulai menguatkan setiap helainya. menusum meliuk liuk kebagian tanah yang terdalam, sambil mengacuhkan dunia.

**

Awan hitam mulai mendekat dari selatan. Sudah dapat dipastikan setelah ini pasti akan ada badai menerjang dan aku terlalu jauh dari tempat untuk pulang. Beberapa hari ini cuaca memang tak bersahabat. Ha..ha.. entah kenapa aku memilih kata itu untuk menggambarkannya. Atau sepertinya Tuhan sedang menguatkan jiwaku. Menghadapi hitam, putih dan abu sekaligus. Menempaku dengan api dan hujan bersamaan. Agar aku kuat. Atau mungkin juga ini sebagai prolog akhir cerita. Cerita tentang laki-laki yang selalu mengejar senja kemanapun.

Usianya tak lagi muda. Agak memalukan menyematkan hal tersebut karena dia tak seharusnya lagi merasakan cinta. Hanya saja aku melihatnya tak seperti biasa. Lebih rapuh dan rentan. Berjalan tanpa arah setiap hari mengetuk semua pintu rumah yang aku yakin dia sudah tahu tak ada sesiapapun disana.

Badai akhirnya datang, gemuruh air berlomba dari sudut sana. seolah berteriak, mencoba menghempas bumi untuk yang pertama. Laki-laki itu tetap disana, diam. Seolah pasrah akan sisa hidupnya. Dia beesimpuh di tengah padang rumput, merunduk. Sekilas kau tak akan tahu kalau dia ada disana. Karena dia menyatu dengan warna dan bau hujan. Namun aku melihatnya jelas dari sini. Melihatnya merentangkan kedua tangan lebar lebar, seolah merindukannya. Apa dia merindukan hujan? atau badai? atau sesuatu setelahnya.

Padahal baru kemarin kulihat dia melakukan hal serupa, itu pasti bukan tentang rindu. Bukan tentang hati gelap yang ingin dibasuh. Ataukah dia berharap pelangi datang di penghujung senja. Lalu apa maunya? Apakah ada orang lain yang juga memperhatikannya selain aku. 

Kulihat mereka asyik bercengkarama, bercerita tentang kisah mereka yang sekilas kudengar seperti mengada-ada. Laki-laki itu diseberang sana. Tak terlalu jauh dari tempat kami berteduh. Kenapa dia tidak menjauh, mencari tempat hangat yang kering. kenapa harus rerumputan. Atau apakah karena itu???[ ]

0 comments:

Post a Comment

 
;