Aku mengerti setiap tetes airmatamu.
Bahkan ketika senyum itu kau buat menjadi kamuflase
Aku mengerti bagaimana berat bebanmu
Andai manusia bisa memilih takdirnya sebelum pecah tangis pertama
Tak akan ada yang memilih sedih ataupun luka
Namun ini adalah suratan
seperti cerita kita
***
Aku melihatmu di untaian senja. Berjalan menyisiri sudut telaga. Aku bisa membayang senyummu dari kejauhan. Wangimu menyeruak bersama hembusan angin. Apakah aku mengenalmu? Aroma ini seperti tak asing. Dari belakang tampak siluet bocah-bocah kecil berkejaran, mencoba menapak bekas jejak kakimu. Mereka tertawa bahagia dan aku kembali melihat bayang senyummu bersama air mata yang membasahi bumi.
Aku hanya menatapmu dari kejauhan, mencoba bercengkrama dengan senja. Aku tahu kau melihatku sedari tadi. Namun kita tak saling mengenal. Atau kita pernah bertemu di suatu waktu yang lalu? Atau pada kehidupan sebelum ini dalam rengkarnasi.
Lalu tiba-tiba aku terkejut dengan jejak langkah tepat dibelakangku. Aku tak menyadari Kehadiranmu. "Aku tahu akan menemukanmu disini, bukankah senja sudah menghilang dari tadi, mari pulang sayang." ucap Rindu.
Aku menatap ke depan sekali lagi. Hanya ada danau yang sepi, dengan semburat sisa cahaya senja[]

0 comments:
Post a Comment