(Ku coba untuk melawan hati, Tapi hampa terasa di sini tanpamu)
Sebelas lewat Lima Belas menit. Empat Puluh Lima Menit Sebelum detik hari kebahagianmu. Aku dipaksa untuk menuliskan ini di hari spesialmu. Iya aku sering merasa kau memaksaku, seperti kau memaksaku untuk terus hidup. Entah berapa kali ku coba untuk menepis takdir ini dan coba untuk melangkah pergi. Menjauh, menghilang tanpa konfrontasi. Tapi, selalu saja ruang kosong putih tak berujung tiba-tiba terbuka lebar di depanku, menyambut langkahku. Sebuah bangku penyesalan berdiri tegak di sudutnya. Bangku yang terbuat dari kayu yang sudah terlihat melpuk, berwarna cokelat. Seketika Aku berbalik melangkah kembali. Aku sudah terlalu lama duduk disana.
(Bagiku semua sangat berarti lagi, Ku ingin kau di sini tepiskan sepiku bersamamu)
Kau tahu ketika cerita tak beraturan ini muncul, aku sedang menghapus keringat basah di pipi. Kucoba menoreh senyum kecil seolah kau ada disini menatapku. Penyesalah itu selalu menyayat hati. Seharusnya aku ada disana sekarang. Menemani saat bahagiamu. Andai dulu aku tak terlalu takut dengan dunia.
(Takkan pernah ada yang lain di sisi, Segenap jiwa hanya untukmu)
Kau tau beberapa bulan perjalananku kemarin. Aku mencoba untuk memulihkan jiwa dari rasa kecewa dan sakit. Sesuatu yang tak sempat kuceritakan padamu karena tak ada momen yang tepat untuk itu. Aku melaluinya sendiri, mengarungi jalan demi jalan sembari mengumpulkan remah-remah arti kehidupan. Sampai saatnya aku menemukan sebuah jalan dan memutuskan untuk melaluinya, menentang suratan mahluk pencipta. Itu membuat Abah dan Dia menangis. Maaf ini sudah keputusanku.
(Dan takkan mungkin ada yang lain di sisi, Ku ingin kau di sini tepiskan sepiku bersamamu)
Aku sudah menyerahkan semuanya kembali kepada-Nya. Seperti halnya kamu. Aku sudah tak takut pada apapun lagi sekarang. Ucapan lelaki tua yang kutemui beberapa minggu yang lalu memang ada benarnya. "kita tidak akan pernah bisa memuaskan semua orang, atau menjadi yang terbaik untuk semua. Akan ada selalu ada yang tersakiti karena sakit tersebut mungkin juga suratan dan ujian kepada orang lain dari sang pencipta"
Kau pernah bertanya kenapa aku bertahan atas semua sifatmu. Kenapa aku tak melangkah pergi. Percayalah, seperti yang pernah kukatakan, aku sudah sering mencobanya. Aku berjanji kelak kau akan mengetahui jawabnya; Aku hanya ingin bersamamu. Hingga akhir Nafasku.
***
Selamat Ulang Tahun Sayang, Maaf karena ini bukan kado terbaikku. Entah kenapa tulisan ini ternyata bukan sebuah puisi. Aku berdoa disetiap nafasku, agar kau selalu dikaruniai kesehatan dan kebahagiaan. Dan apapun nanti yang akan terjadi.... maka itu adalah akhir dari cerita kita. Seperti pena yang mulai kita tuliskan ketika pertama bersapa[].
Bermandikan Cahaya Bulan, 26 April 2024
Yang selalu sukses bikin kamu kesal dan segalanya,

0 comments:
Post a Comment